Jurnalis Belanda Berbagi Trik Video yang Bercerita

0

INSPIRASI tak harus bermula dari ibu kota Jakarta. Kediri juga bisa mengawali, sebuah genre news yang didominasi video berbasis story telling di Indonesia.

Pencerahan itu dipaparkan Wilma van der Maten, jurnalis video multimedia dari Belanda dalam workshop video jurnalism yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri dan Serikat Pekerja Belanda (FNV) di Combi Cafe, Jalan Sukarno Hatta, Kediri, Sabtu (22/082015).

AJI Indonesia memberikan kehormatan kepada AJI Kediri sebagai AJI Kota pertama yang menggelar workshop dengan tema ‘How to make 3 minutes story as a news?’ ini.

Wilma memaparkan pengalamannya 28 tahun malang melintang di berbagai negara di belahan dunia yang dilanda konflik, mayoritas di Asia; diantaranya di Afghanistan, Irak, Pakistan, India dan Nepal.

Peserta tak hanya jurnalis AJI Kediri, namun juga dari Banyuwangi, Malang, Bojonegoro, Tulungagung dan Trenggalek. Mereka tampak antusias menanggapi materi. Tak jarang menyela, sekadar bertanya atau berpendapat. Sebuah workshop yang interaktif.

Wilma mengupas genre video journalism berbasis story telling yang sudah diterapkan di Eropa namun belum tersentuh oleh TV nasional yang terpusat di Jakarta.  Seharusnya, hasil liputan berupa video yang ditayangkan itu bisa bercerita banyak. “you have to thinking in picture”, salah satu kata kunci yang dikatakan Wilma. Suara pembaca narasi yang mengiringi video tak perlu membacakan hal yang sebenarnya sudah tampak di video. Sebab, hal itu justru mendegradasi karya video berita yang muncul. Hal ini masih menjadi kelaziman televisi di Indonesia.

Bagaimana menghasilkan sebuah gambar yang bercerita? Wilma mengungkapkan, seorang jurnalis sudah harus berpikir tentang konsep (dalam hal ini pesan), sebelum mendatangi lokasi liputan. Untuk itu, diperlukan riset terlebih dahulu. Jadi, ketika meluncur ke lokasi, sang jurnalis sudah memahami persoalan. “Karena telah memahami konteks persoalan. Dia tak lagi pada tahapan pertanyaan what, tapi how,” kata Wilma yang ditemani penerjemah Tia Mboeik, dari FNV.

Wanita yang memiliki hobi berenang dan tenis ini memiliki kiat tersendiri agar gambarnya bisa bercerita. Ketika melakukan sebuah peliputan, dia membayangkan tengah bercerita pada ibunya tentang peristiwa itu, sehingga semua unsur cerita itu bisa selesai melalui gambar. Emosi juga perlu dimasukkan dalam suatu gambar ketika memproduksi berita feature, jadi pertanyaan klise seperti “bagaimana perasaan Anda” terhadap suasana hati subyek tidak perlu dilontarkan, cukup melihat gambar yang ditayangkan.

Wilma juga memutar dua video; peristiwa seseorang yang terjebak dalam badai tornado dan rekaman anak-anak di Jalur Gazza. Kemudian meminta agar peserta menyampaikan cerita yang diterima sesuai dengan imajinasinya. Genre ini mungkin saja sekadar wacana bagi jurnalis media televisi nasional. Namun, sejumlah produser televisi lokal yang hadir dalam workshop bisa menerapkannya.

Pada sesi kedua, adalah Lexy Rambadeta, pengurus AJI Indonesia yang memaparkan kiat-kiat agar memanfaatkan video agar bisa mendapatkan income dari youtube. Lexy yang bekerja untuk televisi di luar negeri ini menyampaikan pengalamannya, ketika mengunggah gambar di youtube.

Lexy Rambadeta, founder channel Jakartanicus sebagai pemateri sesi kedua. (foto : Nakula)

Lexy Rambadeta, founder channel Jakartanicus sebagai pemateri sesi kedua. (foto : Nakula)

Mulanya, dia tak memonetisasi akunnya di youtube. Namun, suatu kali, dia mengunggah liputan video pidato Anis Baswedan di kanal Jakartanicus yang dikelolanya. Video itu menuai respon dari ribuan penonton. Tiap jam naik 1000 viewers.  Sebulan, ratusan ribu. Sehingga, ada email tawaran dari youtube untuk memasang iklan dan menawarkan monetisasi. Kuncinya adalah konsistensi dalam mengunggah video, harus ada video baru minimal dua kali dalam seminggu dengan sound yang jelas.

Sama seperti yang dilakukan Wilma, Lexy juga memproduksi video feature tentang isu yang sedang berkembang di Jakarta maupun nasional karena peluang itu yang memungkinkan untuk ditonton di Youtube. “Selama ini, stigmanya karya jurnalistik itu sulit untuk memperoleh viewer di youtube. Yang banyak adalah yang unik dan lucu-lucian. Tapi saya bisa membuktikan karya jurnalistik juga ditonton,” ungkap Lexi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengunggah berita video di Youtube, misalnya tidak menggunakan material yang pernah ditayangkan atau mengupload ulang video dari channel lain. Selain itu kualitas video High Definition (HD) atau kalo memungkinkan full HD yang nyaman untuk ditonton, kata kunci video dan thumbnail video menjadi penting.

Pria yang ramah ini juga sedikit membuka rahasia dapurnya. Ketika pada pertengahan 2014, pada satu bulan pernah memperoleh uang 4000 dolar. Namun, penghasilan itu juga fluktuatif. “Semua memang tidak mudah. Butuh ketekunan dan rutin upload,” ungkapnya, sembari menyebutkan dari 25 orang yang mengikuti jejaknya, hanya 2 orang yang berhasil dan terus kontinyu sampai sekarang. (Danu Sukendro/Nakula)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.