Jembatan Lama Kediri yang Sarat Nilai Sejarah

0

JEMBATAN lama sungai Brantas, orang Kediri pasti pernah melintasinya. Jembatan ini sarat dengan sejarah. Dibangun pada 18 Maret 1869. Arsiteknya Sytze Westerbaan Muurling, asal Belanda. Jembatan lama ini merupakan jembatan konstruksi besi pertama di Pulau Jawa.

Di utara jembatan lama, hendak dibangun jembatan baru yang lebih lebar. Tapi, tak kunjung usai. Jembatan lama masih menjalankan tugasnya, menjadi penghubung barat sungai dan timur sungai dengan baik.

Dengan pagar besi sederhana yang tingginya sekitar 1 meter.Tempat pejalan kaki dari papan kayu yang tertata rapi. Kerapkali terbakar. Tersulut api puntung rokok pejalan kaki.

Pemerhati sejarah, Imam Mubarok mengatakan, data pembangunan jembatan tersebut diketahui dari buku Belanda dengan judul “Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek.”

“Sangat dimaklumi sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri jembatan ini sangat diperlukan. Sebab hanya jembatan ini lah yang sebagai penghubung wilayah Madiun dan Surabaya di kala itu,” kata jurnalis merdeka.com ini.

Menurut Barok, jembatan lama ini memiliki konstruksi sangat kuat. Dia memiliki koleksi foto dampak banjir pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan lama. “Tapi, jembatan ini tak bergeser sedikitpun, karena konstruksinya yang luar biasa,” ujar pria yang juga seorang kolektor keris dan akik ini.

Jembatan lama di masa lalu (Repro Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek by Imam Mubarok)

Jembatan lama di masa lalu (Repro Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek by Imam Mubarok)

Lebih dari 140 tahun, jembatan ini teronggok diam, membentang di atas sungai Brantas. Sejak matahari menyingsing hingga tengah malam menjelang, lalu lalang kendaraan melintas tanpa henti.

Saat tim kami melakukan pengambilan gambar dari udara pada 11 Oktober 2015 lalu, bendera partai berjajar terikat pada pagar dari ujung hingga ujung jembatan. Pemandangan serupa terjadi pada pekan berikutnya, ganti bendera organisasi massa.

Apakah cerita-cerita tentang jembatan ini memang belum membumi? Lalu, mengapa elemen masyarakat hanya menjadikan jembatan ini sebagai ruang kampanye tanpa memikirkan pelestarian dan penghargaan nilai-nilai sejarah? (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.