Hidup di Serpihan Daun Kering

0

Wanita-wanita renta di lereng Gunung Kelud ini rela berjalan 3-5 km. Demi memulung sampah daun cengkeh yang terserak…

MATAHARI masih sembunyi di puncak Kelud. Dinginnya udara pegunungan menusuk tulang. Jalanan masih sunyi. Sesekali, motor para pekerja Perkebunan milik PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan) Margomulyo di Desa Sugihwaras membelah jalan yang berkabut.

Di gubuk itu, Mbah Silah berkemas. Menenteng bungkusan kain kumal, wanita renta ini melangkah tertatih di jalanan beraspal ditopang tongkat kayu. Tangan kirinya menggamit sapu lidi.

Wanita ini sudah bungkuk. Tiap melangkah, sandal jepit itu seperti terseret. Dia melintasi loket Wisata Kelud Kabupaten Kediri yang belum dijaga di pagi buta.

Sepeminuman teh, Mbah Silah tiba di perkebunan cengkeh. Di gasebo sebuah kelokan jalan, seorang wanita tua lain menunggu.

Wis mau (sudah tadi)?”

Wanita bernama Mbah Sipon ini mengangguk. Tanpa suara, dia bergegas. Membawa perlengkapan yang sama dengan Mbah Silah; karung dan sapu lidi.

Sesaat kemudian, mereka menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon cengkeh. Di sebuah tempat, di bawah pepohonan cengkeh, kedua wanita renta ini berhenti.

Lho, wis enek Misiah,” seru Mbah Sipon. Dia langsung balik badan melihat wanita renta lain yang disebutnya bernama Misiah itu tengah memulung daun cengkeh.

Mbah Silah masih berbasa basi, sebelum mengikuti langkah Mbah Sipon. Di tepi jalan menuju kawasan puncak Kelud, Mbah Sipon sudah mendahului memulung daun.

Golek panggonan angel, wis enek Misiah,” keluh Mbah Sipon.

Lha iyo.. “

Mbah Silah membuka karung kain kumal. Ada bekal makanan berbungkus plastik, karung goni, dan kaos tangan.   Dia hanya mengambil satu kaos tangan coklat. Melindungi telapak tangan kanannya dari duri…

Mbah Silah memunguti daun cengkeh kering.

Mbah Silah memunguti daun cengkeh kering.

Dua hari, Lima Karung Daun

DUA wanita renta ini mengumpulkan daun-daun cengkeh yang berserakan di tanah. Sapu lidi beraksi. Daun yang terkumpul dipungut. Dimasukkan ke dalam karung goni.

Kulo pun sangang puluh. Mbok menawi lebih. (Usia saya 90 tahun. Bahkan, bisa lebih),” kata Mbah Silah. Tangannya cekatan, memasukkan daun cengkeh kering. Memenuhi isi karung goninya.

Luar biasa. Wanita ini masih kuat, berjalan 3-5 km per harinya. Dia menoleh ke arah Mbah Sipon. “Mbah kuwi luwih enom (kalau dia lebih muda).”

Kulo wolong puluh (saya 80 tahun),” jawab Mbah Sipon, setelah Mbah Silah bertanya dengan setengah berteriak.

Ingkang banter, radi niki…,” Mbah Silah menunjuk telinganya sendiri, sembari tersenyum…

Kalih dinten saget angsal gangsal karung. (Dua hari, bisa dapat lima karung),” ungkap Mbah Silah.

Jika ditotal, lima karung daun cengkeh setara 25 – 30 kg. Satu kg daun cengkeh, lanjut Mbah Silah, seharga Rp. 1000. Penghasilannya sehari, berkisar Rp. 10 – 15 ribu.

Lha, ora duwe anak, le. Lek, ora nyambut gae, sopo sing dijaluk (saya nggak punya anak. Kalau tidak kerja, harus minta uang pada siapa).”

Dia tidak punya anak. Suaminya sudah meninggal 10 tahun silam.  Mbah Silah tinggal sebatangkara. Namun, rumahnya diapit kerabatnya. Di depan gubuknya; rumah Ira.

Ira anak dari keponakan Mbah Silah yang bernama Sukasih, saat ini berada di Balikpapan. Di samping rumah Ira, adalah rumah Laksmi juga keponakan Mbah Silah. Saat kecil, keduanya dirawat oleh Mbah Silah.

Mbah Silah pernah menjadi buruh kopi, mencangkul hingga memupuk tanaman. Karena sudah tua, Mbah Silah mengaku diberhentikan. Akhirnya, dia mulai berburu sampah daun cengkeh kering. Tepatnya kapan, Mbah Silah sudah lupa. “10 taun enek yo mbok?” tanya Mbah Silah pada Mbah Sipon. Yang ditanya cuek saja dan terus melanjutkan makan, karena  tak mendengar.

Tiyang niku kalih ingkang kuwoso didowokno umure. Konco-koncone sami sedo sedoyo. (Orang ini sama yang maha kuasa, dipanjangkan umurnya. Temannya sudah banyak yang meninggal dunia.)” Tiba-tiba Mbah Sipon menimpali.

“Kantun setunggal, Mbok Katemi. (Tinggal satu namanya mbok Katemi)” sambung Mbah Sipon.

IVM_DNU_210413_NENEK PENCARI DAUN KERING_5 006

Saat memulung daun, Mbah Silah selalu bersama Mbah Sipon.

Sementara matahari terus beranjak dari peraduannya. Cahayanya mengintip di sela dedaunan pohon cengkeh. Sepeda motor kerap lalu lalang di jalan menuju kawasan wisata Kelud.

Dua wanita tua ini  duduk di tanah. Mbah Silah membuka bekal makanannya. Sayur pepaya dibungkus plastik. Nasinya terpisah. Dia langsung menyendok nasi dan sayur dari plastik.

Sedangkan, Mbah Sipon memakan nasi bercampur tahu dan tempe. “Menawi kulo saget nedo niku,” katanya, sembari menunjuk sayur papaya Mbah Silah.

Teruse dokter darah tinggi,”

Ditampung Pengepul, Dikirim ke Nganjuk

SIANG itu, Mbah Silah memperoleh satu karung daun cengkeh kering. Cukuplah untuk hari ini.

Aku mudun sik yo..” katanya pada Mbah Sipon.

Wanita renta ini kemudian mengangkat karung berisi daun itu. Mengikat karung dengan seutas kain ke tubuhnya. Setelah itu, kakinya yang renta menyusuri jalan beraspal. Turun, hingga di samping sebuah pemakaman umum. Sudah ada beberapa karung cengkeh perolehannya selama dua hari. Ada karung bertuliskan namanya, Mbah Silah. Entah siapa yang menuliskannya.

Kebetulan, Miskan, pengepul daun cengkeh melintas. Nama Mbah Silah ada dalam catatannya. Mbah Silah, 21 kg.

Selikur ewu mbah.” Miskan membayar Mbah Silah Rp. 21 ribu.

Mbah Silah menerima upah dari pengepul daun cengkeh kering.

Mbah Silah menerima upah dari pengepul daun cengkeh kering.

“Dikirim ke Nganjuk untuk dijadikan minyak cengkeh,” kata Miskan, sebelum beranjak pergi dengan motornya..

Melalui proses penyulingan, daun-daun cengkeh ini dimanfaatkan menjadi minyak cengkeh. Minyak cengkeh mengandung eugenol sebanyak 78-98 persen. Bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk obat gigi, penyedap rasa, parfum, anti jamur, anti bakteri dan anti serangga.

***

NAMANYA siapa?”

“Tri Sakti Oktaviana. Yang ini Alfarizi Mirza Wijaya…”

Dua bocah itu asyik bermain tanah. Dari dapur, Laksmi menyorongkan kopi ke bibinya, Mbah Silah yang duduk di balok kayu berukuran kecil.

“Mbah Silah sudah sepuh. Sebenarnya, keluarga khawatir…”

Kenapa nggak dilarang? Laksmi tak langsung menjawab. Sejenak, dia menatap Mbah Silah.

“Kalau dilarang cari daun, malah marah. Bayaren aku, ben aku ndek omah ae… Kadang, jawabnya gini; ndisik slametane pak’e, yo gawe duitku dewe.”

Mbah Silah diam. Tak membantah keterangan Laksmi. Wanita renta ini beranjak. Mengambil karung, alat kerjanya yang dijemur. Masuk ke dalam gubuk.

Jika malam merangkak, dia menanti pagi. Berjalan lagi menyusuri lereng Kelud. Menghabiskan waktu di bawah terik matahari. Bertahan hidup di atas sampah daun cengkeh yang terserak…  (Danu Sukendro)

 

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply