Henggar, Dokter Penggila Motor Antik

0

Bercita-cita menjadi insinyur teknik mesin, Henggar Herawana justru ‘tersesat’ menjadi dokter. Kesibukannya sebagai kepala Puskesmas tak menghalangi kegilaannya pada motor antik. Bahkan, sudah 17 tahun, dia didapuk menjadi komandan pecinta motor antik di Kediri Raya.

SYAHDAN, Henggar Herawana kecil suka otak-atik mesin. Cita-citanya menjadi insinyur teknik mesin. “Dulu, mobil Ford tahun 1948 milik bapak sering saya bongkar pasang,” kata pria kelahiran Palembang 19 September 1957 ini.

Akan tetapi, Harjono, sang ayah justru memintanya menjadi dokter. Begitulah. Henggar mengikuti kemauan ayahnya, kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, pada 1978. Lulus tahun 1984, Henggar ditempatkan di Kediri.

Akan tetapi, hasratnya terhadap dunia otomatif tak padam. Henggar punya motor Honda 400 cc. Ketertarikannya pada motor tua bermula ketika motornya beradu balap dengan Norton. “Semula saya meremehkan, wong Norton motor Kuno. Eh, malah motor saya yang kalah cepat,” kisah  Henggar, sembari tergelak.

Sejak itu, Henggar tertarik memiliki motor kuno Eropa. Dia menjual Honda 400 cc lalu membeli BSA buatan 1956. Namun, perjalanannya mencintai motor antik tak mulus. BSA 1956 itu sering mogok lalu dijualnya motor itu.

Lalu, dia membeli BMW R-27 tahun 1960. Meski bodinya menarik, BMW kurang memiliki speed. Berkebalikan dengan Harley Davidson 900 cc Sporter yang dibeli Henggar setelah menjual BMW-nya. Harley hanya nyaman dikendarai untuk kecepatan tinggi.

Akhirnya, Henggar menemukan tambatan hati, kala memperoleh Triumph 1957. “Saya punya Ariel. Ada yang tertarik. Mau nukar dengan Triumph, tanpa pikir panjang saya ambil,” katanya

Padahal, Triumph itu kondisinya rusak. Dia harus membeli onderdil ke Australia. Namun, Triumph itu hanya sekali turun mesin. Selanjutnya, Triumph menjadi motor yang tak tergantikan lagi.

“Motor ini nggak pernah rewel. Pernah saya bawa tour ke Jambore motor antik di Malino, Sulawesi Utara,” ujar suami Dwi Hartini Irianti ini.

Bahkan, Henggar ketagihan untuk berburu motor antik lainnya. Selain Triumph, koleksinya kini Norton buatan 1956, BSA 1938 dan AJS 1954. Dia juga tengah mencoba menyulap mesin mobil MAZDA Caroll B-600 menjadi sebuah antik.

Rekan-rekannya di komunitas pecinta motor antik yang tergabung dalam Joyoboyo Motor Antique Club memilih Henggar sebagai ketua. Sejak 1998 hingga sekarang, Henggar belum tergantikan

Motor antik menjadi media refreshing Henggar di sela kesibukannya sebagai Kepala Puskesmas Plosoklaten. Bapak dari dr Paramita Putri Hapsari SpAn dan Rangga Adinegara ini selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama pecinta motor antik, tiap akhir pekan di stadion Brawijaya.

Pecinta motor ini tak jarang tour hingga ke luar pulau. Saat tour, mereka yang sebenarnya dari ekonomi kalangan menengah ke atas ini sering menggelandang di atas trotoar. Saat itu, kebersamaan terasa. Jiwa petualangan kian terasah.

Tak jarang, pecinta motor antik ini janjian bersama-sama membongkar dan merakit motor. “Karena, biasanya ‘kan dapet-nya hanya onderdil saja, kami rakit sendiri. Dari motor rusak, kemudian bisa kami bangun dan jadi. Di situlah letak seninya,” paparnya.

Sebenarnya, merakit motor ini hanya hiburan. Namun, juga menghasilkan. Tak jarang, hanya bermodalkan puluhan juta rupiah, begitu jadi dan bisa dihidupkan, motor ditawar di atas Rp 100 juta.

Henggar merasa bangga memiliki motor antik. “Sebab, orang punya uang, belum tentu punya motor,” tukasnya.

Kini, sebagian Henggar sudah dilabeli not for sale. Lho kok? “Sudah ada pewarisnya. Motor saya BSA buatan 1938 itu saya wariskan ke Anggoro, cucu dari anak saya pertama. Motor AJS 1956 saya wariskan ke anak saya kedua, Rangga Adinegara,” katanya. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.