DALAM rangka menemui para pembaca dan pemirsanya, Kediripedia.com menggelar acara Duduk-duduk Memandang Gunung (DMG), pada hari Rabu, 19 Desember 2019. Agenda yang dikemas untuk para milenialis pemikir ini, berlokasi di kaki Gunung Wilis Kediri, bertepatan di halaman Doro Gepak, Griya Werdiningsih, Puhsarang, Kabupaten Kediri,

Sedikitnya 150 muda-mudi dari berbagai kalangan turut duduk-duduk bersama selama acara berlangsung. Antara lain para aktivis pergerakan, pegiat literasi, pengaduk kopi, jurnalis muda, dan musisi-musisi Kediri.

Dalam nuansa lereng Wilis yang sejuk, antusiasme pengunjung cukup terasa. Mereka saling bercengkrama mengenal satu sama lain, berdikusi sembari menikmati hangat minuman dan makanan yang diramu langsung oleh tim Ubo Rampen. Oleh penyelenggara, mereka dipersilakan untuk nyimak runtutan acara yang telah disiapkan. Diperbolehkan juga bila hanya sekadar nongkrong bersama kawan, tanpa harus mengikuti acara.

DMG diawali dengan orasi budaya yang disampaikan oleh Doktor Taufik Al-Amin. Sambil berdiri di tanah lapang berlatar belakang bunga Bougenville, dosen IAIN Kediri itu mengajak para milenialis pemikir untuk merefleksikan budaya era milenial. Sebuah masa di mana semua insan merasa bahwa informasi adalah kebutuhan pokok. Bisa dilihat dari keseharian manusia kini yang tak bisa dipisahkan dari gadget. Bila terlena, dikhawatirkan justru menimbulkan dampak negatif. Manusia akan semakin berilusi dalam dunia maya dan melupakan alam nyata yang bersifat realistis.

Semakin malam, acara Duduk-duduk Memandang Gunung semakin seru (Foto: Naim)

Kegiatan bernuansa literasi yang dirancang santai dan mengalir itu, membuat peserta tidak sungkan mengungkapkan gagasan. Tidak sedikit pula yang memberanikan diri untuk bertanya. Hal serupa juga masih kental terasa saat materi Filmologi yang disampaikan oleh Nakula. Pegiat film asli Kediri ini berbagi pengalaman tentang teknis serta tips-tips menggali ide dalam sebuah produksi film pendek.

Makin malam DMG tambah semarak dan menarik ketika Musikalisasi Kata-kata dipentaskan oleh Ibnu Er Atok. Fandi Maiyah ikut naik panggung sebagai pengiring musik. Tito Tokoh Politik Kampus, Ucup Somad, Minan Tuban serta Kirom Remas menyusul. Mereka saling berganti, sahut-sahutan membaca puisi yang tak terlepas dari kontekstual permasalaan hari ini.

Infografis Duduk-duduk Memandang Gunung

Saat Dodoth Mblobor dapat gilirian unjuk diri, suasana mendadak jadi mistis. Sosok di balik gerakan mural Kota Kediri itu ternyata seorang pelukis metafisik. Dia mampu memvisualisasikan hasil penglihatan mistis yang dituangkan kedalam sebuah karya lukis.

Ia memamerkan hasil melukis kahanan; sebuah lukisan cat air yang mengambarkan singgasana kosong yang memiliki delapan pilar dan tiga tangga. “Singgasana yang kosong dan delapan pilar menggambarkan kondisi nusantara saat ini,” katanya. Dodoth menjelaskan, bahwa belum ada pemimpin yang bisa menempati delapan janji raja atau biasa disebut dengan Astroboto. Adapun tiga tangga menggambarkan tahapan yang harus dicapai manusia, agar menjadi sempurna di hadapan Sang Pencipta.

Angin malam di kaki gunung Wilis masih dingin. Tapi bukan suatu masalah berarti karena para Dream Catcher yaitu Cak Fat dan Naim Asli dengan sigap menghangatkan badan dan suasana dengan menyalakan api unggun.

Sementara itu, para jurnalis muda yang berasal dari Arjuna Smeking dan Komunitas Jurnalis Muda (Kojurda) Kediri menyapa pengunjung DMB dalam tajuk Senjakala Jurnalisme. Arjuna Smeking bercerita awal mula berdirinya di SMKN 1 Ngasem dan perkembangannya hingga saat ini. Sedangkan Kojurda merupakan perkumpulan jurnalis muda yang berdiri pada tahun 2009. Mereka menaungi jurnalis-jurnalis sekolah yang ada di Kediri. Mayoritas diikuti oleh siswa SMA/sederajat. Mereka mewadahi bagi siapa saja yang ingin belajar ihwal jurnalistik, tak terkecuali bagi siswa SMP/sederajat.

Diskusi makin seru, ketika Lambang CP, Cici Agustina dan Intan Pramesti duduk di depan hadirin, berbagi tips seputar dunia Fotografi dan Selfiegrafi. Kemudian obrolan dilanjutkan oleh pengelola Perpustakaan Jalanan Cilukba dari Jombang dan Sae Alit dari Pare. Tanpa disangka, kisah pengalaman keduanya mengembangkan perpustakaan dan ruang belajar di kawasan masing-masing justru yang paling ditunggu oleh sebagian besar peserta DMG.

Infografis Duduk-duduk Memandang Gunung

Dwidjo U. Maksum, pemimpin redaksi Kediripedia.com, menuturkan bahwa DMG digelar bertujuan untuk mengembangkan pemikiran tentang media alternatif di kalangan mahasiswa, pelajar dan masyarakat luas. Hal ini dilandasi supaya generasi milenialis tidak mudah terpengaruh dengan arus globallisasi yang semakin mencabik pola pikir. Selain itu, diharapkan bisa menjadi wadah bagi kaum muda untuk ajang berekspresi. “Memberi ruang ekspresi bagi kaum muda agar pemikarannya tetap maju dan berkembang,” kata lelaki yang akrab disapa Pak DUM itu.

Acara berjalan dengan lancar meskipun cuaca sempat tidak bersahabat. Di penghujung malam, DMG ditutup dengan bernyanyi bersama yang dipandu oleh Fandi Maiyah. Sebelum bernyanyi, dia juga sempat menyampaikan manfaat dari air hujan yang ia dapatkan dari Republik Air Indonesia yang berada di Karangwinongan, Mojoagung, Jombang. (Ummu/Vina)

Bagikan
  • 22
    Shares

Komentar Anda