Fotografi Jalanan “Estetika Desa” Ala Dokter Ari

0

Badannya tegap, dengan potongan rambut cepak. Lebih cocok menyandang senapan daripada kamera yang setia menggantung dipundaknya. Diruang praktek, kamera itu beralih menjadi stetoskop untuk memeriksa pasien-pasiennya. Namanya Ari Purnomo Adi, seorang dokter yang berpraktek di kampung halamannya di lereng Gunung Kelud, Wates – Kediri.

Dokter Ari memotret seorang pria di dalam rumahnya. (Foto: Dokumen Pribadi)

Dokter Ari memotret seorang pria di dalam rumahnya. (Foto: Dokumen Pribadi)

“Sejauh yg saya tahu dan saya alami , sejak mengenal fotografi 5 tahun lalu, tidak ada genre fotografi yang begitu menantang kreatifitas dan intelektual seperti Streetphotography atau fotografi jalanan,” kata Ari Purnomo Adi memulai percakapan.

“Selama ini, pionir-pionir street photography dunia dan Indonesia lebih banyak ( semua) berkutat pada Estetika Kota. Mereka mencoba memahami kotanya. Para fotografer jalanan mencoba mencari dan menangkap dinamika , mobilitas dan ketegangan manusia kota. Mereka mencoba menangkap interaksi manusia dengan kotanya. Mereka mencoba memahami emosi kota melalui emosi manusia-manusia kota yang mereka temui di jalanan ( ruang publik). Mereka mencoba merumuskan suatu estetika kota,” tambah Dokter Ari panjang lebar.
Kegelisahan Dokter Ari akhirnya sampai pada sebuah pertanyaan,” Bagaimana dengan para fotografer jalanan yang kebetulan tinggal di desa, seperti saya? Estetika Desa adalah jawabannya. Estetika Desa bukan merupakan antitesis dari Estetika Kota, tapi lebih sebagai pelengkap dan penyeimbang. Estetika Desa merupakan lahan kreatif yang bisa kita, para fotografer jalanan desa ( suburban) eksplore dan kita rumuskan bersama”.

Dokter Ari (paling kanan) memotret bersama rekan-rekannya. (Foto: Dokumen Pribadi)

Dokter Ari (paling kanan) memotret bersama rekan-rekannya. (Foto: Dokumen Pribadi)

Lebih jauh Dokter Ari mengungkapkan pandangannya tentang Estetika Desa,” Bagaimana dengan para fotografer jalanan yg kebetulan tinggal di desa , seperti saya? Estetika Desa adalah jawabannya. Estetika Desa bukan merupakan antitesis dari Estetika Kota, tapi lebih sebagai pelengkap dan penyeimbang. Estetika Desa merupakan lahan kreatif yang bisa kita , para fotografer jalanan desa ( suburban) eksplore dan kita rumuskan bersama”. (Arief Priyono)

*Dokter Ari Purnomo Adi saat ini merupakan ketua umum komunitas Fotografer Kediri Raya (Foker), sebuah grup fotografi berbasis Facebook terbesar di Kediri dengan anggota lebih dari 9.000 orang. Ia juga aktif di grup Kediri On Street Photography atau disingkat Kosphy.

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply