Desa Babadan – Kediri Dikuasai oleh Sapi

0

POPULASI sapi mendominasi sebuah desa. Fenomena ini bisa ditemui di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Jumlah sapi lebih banyak dibanding manusia. Data Kecamatan Ngancar pada 2015 ini, jumlah sapi di Babadan sebanyak 6689 ekor. Padahal, jumlah penduduknya 4114 jiwa.

Hampir tiap warga memiliki sapi, jenisnya sapi perah. Di Babadan yang terletak di kaki Gunung Kelud ini ada 1053 rumah. Jika dirata-rata, terdapat enam sapi perah di tiap rumah. Pemilik sapi perah terbanyak adalah Subono, mantan kepala desa yang memiliki 25 ekor . Per hari-nya, peternakan milik Subono memproduksi 170 liter susu.

Cikal bakal peternak sapi di Babadan bermula pada tahun 1989. Ketika itu, baru ada enam orang peternak sapi perah. Sebagian besar warga masih berkutat pada sektor pertanian.

Namun, letusan Kelud 1990 yang merusak lahan pertanian menginspirasi warga beralih menjadi peternak sapi perah. “Setelah letusan, ada 30 peternak. Jumlahnya terus berkembang, sekarang hampir tiap rumah punya sapi,” kata Subono.

Bukannya tanpa alasan jika warga akhirnya memilih sebagai peternak sapi perah. Lahan pertanian di  Babadan dikepung oleh perkebunan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta. Areal desa ini dihimpit oleh lahan PTPN XII dan PTPN X yang mayoritas ditanami tebu. Kemudian, tanaman perkebunan milik PT Sumber Sari Petung (SSP)

“Warga bertani kalau ada tebangan sengon Perhutani, mereka tumpang sari. Ada  Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang mewadahi,” papar Subono.

Hasil susu peternak sebagian  besar ditampung oleh KUD yang disalurkan ke produsen makanan Nestle. Sebagian lagi ditampung oleh pengepul dari Blitar yang kemudian dikirim ke Indolacto Jakarta.

Subono turun tangan sendiri, memerah susu. Dia merupakan salah satu pelopor peternak sapi perah di Babadan.

Subono turun tangan sendiri, memerah susu. Mantan kepala desa ini salah satu pelopor peternak sapi perah di Babadan.

Kendala yang dialami peternak, menurut Subono, adalah sulitnya mencari pakan. Karena lahan PTPN banyak ditanami tebu, lahan untuk mencari rumput berkurang. Selain itu, meroketnya harga pakan juga membuat peternak mengelus dada.

“Tahun emas kami 2010 – 2012. Harga pakan sentrat mencapai per 50 kg masih Rp 60 ribu – Rp 70 ribu, sedangkan harga susu Rp 3.700 per liter. Nah, sekarang sentrat kualitas bagus Rp 140 ribu/50 kg, sedangkan harga susu Rp 4.250 per liter,” paparnya. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.