Desa Biogas di Lereng Anjasmoro

0

DESA Medowo, Kecamatan Kandangan ini terletak di ujung timur laut Kabupaten Kediri. Untuk mencapai Medowo, kita yang dari arah Kediri harus melintasi Malang terlebih dulu. Sekira lima jengkal melintasi pintu gerbang selamat datang Kabupaten Malang, ada jalan kecil beraspal di sebelah kiri. Masuk jalan itu. Sekitar 5 kilometer menempuh jalan menanjak, kita akan tiba di Medowo yang terletak di lereng gunung Anjasmoro.

Secara administratif, wilayah ini masuk Kabupaten Kediri, meski sudah dekat sekali dengan Malang dan Jombang. Gunung Anjarmoro menjadi background pemukiman. Pepohonan hijau membentuk deretan yang membentang di sepanjang lereng. Suasana yang sejuk.

80 persen penduduk Medowo adalah peternak sapi perah. Terdapat 315 peternak yang menggunakan instalasi biogas dari kotoran sapi. Miswito, salah satunya. Pada tahun 2012, dia membuat instalasi yang biaya pembuatannya mencapai Rp 6 juta.

“Kami ditawari peralatan biogas oleh KUD yang bekerja sama dengan perusahaan susu. Harganya cukup mahal. Katanya nyicil. Awalnya, kami merasa berat. Ternyata malah irit,” paparnya.

PIC_0311_Capture

Kotoran sapi yang terbuang diolah, sehingga gas metannya dimanfaatkan sebagai biogas alternatif gas elpiji. Kini, Miswito bisa lebih irit, karena tak perlu lagi membeli elpiji untuk kompornya. Dia baru menggunakan elpiji, ketika ada hajatan.

Pengolahan biogas ini juga berdampak positif bagi lingkungan. Sungai di Desa Medowo dulunya banyak dicemari limbah kotoran sapi. Pencemaran air sungai bisa ditekan hingga 90 persen.

Pengolahan biogas, menurut Miswito, menghasilkan ampas sisa proses pengolahan. Ampas ini bisa dimanfaat untuk pertanian. Sebagai pupuk tanaman cengkeh, pisang dan kopi.

Energi biogas juga bisa dimanfaatkan untuk lampu penerangan. Namun, pemanfaatan lampu tak bisa maksimal, karena keterbatasan energinya. “Tapi, kalau pemadaman listrik bisa dimanfaatkan,” ungkap Miswito.

Desa Medowo memang terletak jauh di pelosok. Namun, desa ini merintis menuju desa mandiri energi: Desa yang mampu memenuhi 60 persen kebutuhan energi bahan bakar dan listrik dari energi yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumberdaya setempat. Itu sesuai kriteria Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.