Bang FazliKHASANAH kuliner di Kediri, Jawa Timur sepertinya makin kaya. Di tengah lautan pedagang mie dan nasi goreng yang tiap sore hingga malam hari merajai seluruh kawasan, hadir Mie Aceh yang punya taste berbeda. Selain pecel, Kediri memang juga tersohor dengan mie dan nasi goreng yang memasaknya menggunakan anglo berbahan bakar arang.

Ide menawarkan mie dari daerah yang dulu amat populer dengan sebutan Serambi Mekah, merupakan keberanian yang patut diapresiasi. Cita rasa dan racikan bumbunya yang berbeda dengan mie Kediri, tentu bukan hal mudah untuk bisa mendapatkan tempat di hati para pecinta kuliner.

Adalah Fazli, lelaki 41 tahun asal gampong Ulee Gle, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang berani melawan arus. Sekitar 1,5 tahun lalu, dia merintis berjualan mie Aceh di sebelah barat terminal bus Kota Kediri. Setelah mengalami pasang surut hasil yang tidak menentu, dagangannya mulai bisa diterima warga Kediri.

Kini warungnya cukup mentereng. Menempati ruko kontrakan di Jalan Dr Saharjo 75, Kota Kediri, sekitar 1 kilometer sebelah selatan Pondok Pesantren Lirboyo. Posisinya tidak sulit ditemukan. Selain ada banner “Mie Aceh Baroena” tergantung di depan kedai, ada papan yang menjorok ke jalan bertuliskan: Mie ~ Nasi Goreng Aceh Bang Fazli. Kok namanya Baroena? Kayak nama bis yang markasnya di Kediri aja. Ternyata Baroena itu bahasa Aceh yang artinya: Baru Ada.

“Karena setelah saya telusuri, memang di Kediri baru saya orang asli Aceh yang berjualan Mie Aceh. Makanya saya beri nama Baroena,” kata Fazli, Rabu, 7 Oktober 2015 malam.

Menurut dia, pernah ada kedai Mie Aceh berdiri di sekitar kampus Universitas PGRI Nusantara (UNP). Pengelolanya bukan orang Aceh. Hanya bertahan beberapa bulan, lalu tutup. “Mungkin karena tidak paham racikan bumbu khas Aceh,” kata Fazli. “Sebelum tutup, mereka beberapa kali makan di sini, membandingkan rasa.” Jadi, sekarang hanya Fazli yang berjualan mie Aceh di Kediri.

Foto Mie Aceh-2Pertama kali jualan, banyak pembeli mengeluh karena rasanya seperti jamu. Bahkan ada yang berkelakar, apa sengaja mau diracuni. Selain rasa pedas sangat kuat, bumbu mie Aceh berasal dari campuran rempah-rempah yang diolah menjadi semacam kuah kare. Kritik dari pembeli itu membuat Fazli sedikit mengurangi kadar kekuatan rempah agar lebih sesuai dengan lidah orang Kediri. “Alhamdulillah, sekarang sepertinya sudah pas,” kata Fazli.

Perihal bumbu, semua bahan bisa ditemukan di Kediri kecuali tanaman kacakace dan ketapang keling. Kacakace diambil bijinya yang bentuk dan besarnya seperti telur ikan. Sedangkan ketapang keling diambil biji yang berada di dalam cangkah buahnya. Mirip buah kluak, bahan bumbu rawon.

Jadi untuk mendapatkan kacakace dan ketapang keling Fazli minta kiriman saudaranya dari Aceh, lalu dikirim memalui jasa paket. Tiap tahun hanya butuh 2 kilogram. “Mie-nya juga saya bikin sendiri, tanpa bahan pengawet,” kata Fazli.

Sejatinya Fazli bukan orang baru di Kediri. Menginjakkan kaki di Kediri tahun 1995, dia bersama teman-temannya adalah sekelompok pedagang keliling door to door dari Aceh. Berbagai produk seperti susu, jamu, sepatu, pakaian, hingga peralatan rumah tangga, pernah dia jajakan.

Sekitar tahun 2000 dia jumpa dan menikahi gadis pujaannya, Tri Suwarni, wanita asli Kediri. Pernikahannya dengan Tri membuahkan dua anak: Cut Maisun Kusniah (siswi kelas 2 MTsN I Bandarkidul, Kota Kediri) dan Tengku Muhammad Nur (siswa kelas 6 SDN Campurejo).

Ketika anak-anaknya mulai bersekolah, Fazli gelisah, apakah akan terus jadi pedagang keliling menjajakan berbagai mata dagangan. Sudah saatnya anak-anak butuh pendampingan orangtua. Apalagi dia juga sudah mulai jenuh dan kecapekan terus jualan keliling, “Akhirnya saya memberanikan diri berjualan mie Aceh,” kisah Fazli,

Selama 1,5 tahun berdagang mie Aceh, omzet penjualan terus meningkat. Buka pukul 14.00-24.00, tiap hari Fazli bisa mengantongi rata-rata Rp 1 juta. Target itu harus terpenuhi karena selain untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, dan belanja bahan baku, harus menyisihkan biaya kontrak kedai yang per tahunnya Rp 10 juta.

Selain warga sekitar Kota Kediri, pelanggannya juga banyak berdatangan dari wilayah Kabupaten Kediri. Pengunjung dari luar kota yang sedang lewat juga sering singgah. Pondok Pesantren Gontor II di Gurah sering memesan lewat telepon jika sedang ada hajatan.

Menu Mie Aceh BarunaHarga menu di kedai Fazli nyaris tidak berbeda dengan mie dan nasi goreng asli Kediri. Berkisar antara Rp 8 ribu – Rp 15 ribu. Untuk melengkapi ciri khas kuliner Aceh, Fazli sedang menunggu kiriman bahan baku teh dan kopi tarik. Kelak, jika ada modal tambahan, dia juga ingin menambah dengan menu kare daging kambing yang langsung dimasak 24 jam nonstop di depan kedai, seperti banyak dijumpai di Aceh dan beberapa daerah di Sumatera Utara. Wah, bakal benar-benar serasa meujaga di keude Aceh. Jih cit pungo. Semoga cita-citanya terkabul.

Kuliner memang tidak melulu soal makanan. Ikhtiar Bang Fazli menawarkan makanan khas daerahnya kian menegaskan bahwa Indonesia memang luas dan kaya. Ada kisah yang bakal bergulir, juga persaudaraan yang terus terukir.(Dwidjo U. Maksum)

Nomor telepon Bang Fazli: 082184633324

Bagikan
  • 322
    Shares

Komentar Anda