Catatan Terselip Sang Lady Crosser

0

Terima kasih Tuhan.

Minggu pagi ini, Kau bangunkan aku dalam keadaan luar biasa. Kelelehan bekerja selama sepekan, akan saya tebus dengan melakukan hal-hal menyenangkan. Selesai beribadah, saya akan segera menyusul teman-teman. Pergi ke tempat-tempat yang tidak saya temui setiap hari.

Baju yang saya pakai ke gereja, telah saya tanggalkan. Kini, badan saya balut dengan jersey, body protector, knee protector, gloves, boots, helm, dan kacamata safety. Di garasi, si hitam: sepeda motor trail sudah menunggu. Kondisinya fit, siap diajak blusukan ke hutan.

Saya bersyukur, mendapat kesempatan mengenal hal-hal yang memacu adrenalin. Bermula ketika duduk di bangku SMP dan SMA, suka melarikan kendaraan di lintasan drag 201 meter bersama teman-teman sekolah. Kini, trail dan offroad sepertinya lebih seru. Kotor, berantakan, dan menantang.

Pukul 09.00 pagi, saya dan 40 orang penunggang sepeda motor trail bergegas menyusuri jalan aspal hingga mentok ke tepi Sungai Brantas. Di sepanjang jalan, kami berbaris rapi melintasi perkampungan. Inilah yang saya suka. Banyak nilai yang diperoleh, tentang kearifan hidup pedesaan yang tidak egois dan jauh dari sikap individual. Tak ada gengsi, jabatan, atau gila hormat. Kami berkerumun dalam persaudaraan.

[rev_slider Ladycrosser]

 

Saat menyeberangi sungai, saya merasa kulit mulai terbakar matahari. Saya tak cemas. Biar kulit jadi legam, ini adalah bukti keagungan Tuhan. Dan sepertinya kulit jadi kian eksotik.

Sebagai perempuan, saya tidak lantas mendapat keistimewaan dari teman-teman yang mayotitas laki-laki. Saat saya tersungkur jatuh di jalan ekstrem, mereka justru tertawa. Ketika mulut saya mencium lempung, mereka malah mengambil kamera, dan mengabadikan kekonyolan saya. Sambil bersusah-payah mengembalikan posisi motor, saya justru merasa harkat dan martabat saya sebagai perempuan dihargai. Kemandirian saya dihormati. Tapi kalau sudah kewalahan, apa boleh buat, terpaksa teriak-teriak minta tolong. Baru rekan-rekan mendekati, memberikan pertolongan.

Satu hal yang juga terpaksa harus menyerah adalah di saat melintasi tanah berdebu, ladang pasir, sungai, bebatuan terjal, dan punggung hutan, tiba-tiba datang keinginan buang air kecil. Tentu ini sesuatu yang beda dengan para pria yang dengan mudah mendekati pepohonan atau menghadap semak belukar. Maka, tidak ada solusi selain lapor komandan rombongan, agar berhenti di rumah penduduk, numpang pipis.

Kami disambut ramah seorang warga yang mempersilahkan saya menggunakan kamar mandi mereka. Toilet beralaskan batu bata yang ditata sebagai lantai. Di pojok, teronggok sebuah gentong berisi air. Di dalamnya ada batok kelapa terbelah, berfungsi sebagi gayung. Dindingnya, terbuat dari karung bekas yang tingginya di bawah pinggang saya. Bisa dibayangkan, jika saya berdiri dan ada makhluk di dekat kamar mandi itu, dijamin dia akan kesurupan, hihihi..

Untungnya, meskipun kebanyakan pria anggota rombongan berwajah angker, tapi mereka sangat menghormati wanita. Saya tidak merasa takut sebagai perempuan di sarang “penyamun”.

Usai berterima kasih pada warga pemilik kamar mandi, kami melanjutkan perjalanan, hingga sampai ke sebuah warung. Menunya luar biasa: nasi jagung, ikan asin, urap-urap, sayur lodeh, dan rempeyek.

Lepas dari mengisi perut, kami kembali berhadapan dengan rute-rute ganas yang terus membelah hutan. Kawasan berlumpur justru dicari, sebagai penguji nyali sekaligus mendekati alam.

Tuhan, terima kasih atas nikmat dan kesempatan yang Kau berikan, sehingga bisa melakukan perjalanan penuh tantangan, dimana saya belajar banyak tentang kehidupan yang beraneka warna.

Netizer : Febby Gumilar Wahyuning Illahi, pecinta aktifitas petualangan.
Editor   : Nakula.

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.