Catatan Kedahsyatan Sang Kampud

0

SAAT terdiam, Gunung Kelud begitu cantik mempesona. “Dia sosok yang pendiam. Namun, ketika bertindak, dia bersungguh-sungguh. Pasti.” Majas personifikasi itu dilontarkan Khoirul Huda, Kepala Pos Pantau Gunung Kelud. Kesimpulan yang diambil setelah 30 tahun lebih mengamati gunung yang dahulu dikenal dengan nama Kampud ini.

Aktifitas gunung lain kerap membuat kehebohan. Banyak gunung yang meletup-letup. Namun sekadar gertakan. Tak berakhir dengan letusan. “Kalau Kelud, saat menunjukkan aktifitas pasti ada ujungnya, entah itu letusan eksplosif atau letusan efusif,” papar Khoirul.

Bahkan, hingga menjelang titik kulminasi letusan, Kelud tetap diam. Sesaat kemudian, material tersembur dengan amat dahsyat dan mengerikan.

Sejak tahun 1000 M, Kelud yang dulu dikenal dengan nama Kampud ini diperkirakan meletus 30 kali. Letusan terdahsyat Kelud pada 1586 yang menewaskan sedikitnya 10 ribu jiwa.

Dokumen lebih konkret ditunjukkan setelah abad 19. Kelud tercatat meletus tujuh kali. Berikut data dari Pos Pantau Gunung Kelud:
1. Letusan tahun 1900

foto : TropenMuseum

foto : TropenMuseum

Tidak ada catatan yang pasti tentang letusan tahun 1900. Diperkirakan saat itu, volume air danau kawah mencapai 40 juta m3. Jumlah korban jiwa diperkirakan banyak. Namun, tidak ada data pasti berapa jumlah korban yang meninggal dunia.

2. Letusan tahun 1919

foto: TropenMuseum

foto: TropenMuseum

Letusan pada 20 Mei 1919 siang hari ini merupakan letusan dengan korban jiwa terbanyak setelah abad 19. Ketika itu, volume air danau kawah mencapai 40 juta m3, dengan jarak luncur lahar panas 37,5 kilometer. Sebanyak 5110 jiwa melayang dan 15 ribu hektar lahan pertanian rusak parah.

3. Letusan tahun 1951

foto: TropenMuseum

foto: TropenMuseum

Gunung Kelud kembali meletus pada 31 Agustus 1951 pagi. Volume air danau kawah mencapai 1,8 juta m3, jarak luncur lahar panas 6,5 kilometer. Letusan ini mengakibatkan tujuh orang tewas, tiga diantaranya petugas pengamat gunung api. Material letusan sampai Yogyakarta dan Surakarta.

4. Letusan tahun 1966
Jumlah korban jiwa letusan 1966 cukup besar: 210 orang meninggal. Letusan besar terjadi pada tanggal 26 April 1966 malam. Volume danau air kawah ketika itu 21,6 juta meter3, sedangkan jarak luncur lahar panas 31 km. Setelah letusan ini, dibuatlah terowongan Ampera oleh Pemerintah Indonesia.

5. Letusan tahun 1990

repro: Pos Pantau Gunung Kelud

repro: Pos Pantau Gunung Kelud


Volume air danau kawah saat Kelud meletus pada 10 Februari 1990 adalah 2,4 juta m3. Jarak luncur lahar panas mencapai 5 km.
Korban jiwa akibat letusan 31 orang. Mereka tertimpa reruntuhan bangunan yang ambruk. Letusan yang berlangsung selama 45 hari itu berakhir pada 13 Maret 1990.

6. Letusan 2007

repro : Pos Pantau Gunung Kelud.

repro : Pos Pantau Gunung Kelud.


Pada 3 November 2007, Kelud dinyatakan meletus. Ternyata, Kelud hanya mengeluarkan letusan efusif atau letusan perlahan.
Aktivitas ini memunculkan kubah lava di atas danau kawah. Belakangan, kubah lava ini dipopulerkan sebagai anak gunung kelud.
Disebut sebagai keajaiban alam, anak gunung kelud ini menjadi magnit wisata. Bahkan pada 2011, anak gunung kelud memperoleh anugerah wisata terbaik dari pemerintah provinsi Jawa Timur.

7. Letusan 2014

foto : Fedho Pradistya

foto : Fedho Pradistya


Aktifitas Kelud pada 2014 berlangsung sangat cepat. Statusnya dinaikkan menjadi Waspada pada 2 Februari 2014, delapan hari berselang, statusnya naik lagi menjadi Siaga.
Puncaknya, 13 Februari 2014, pukul 22.50, Kelud meletus. Selama beberapa jam meletus, Kelud mengeluarkan material vulkanik 200 juta m3. Bandingkan, dengan Gunung Sinabung yang selama empat bulan hanya 15 juta m3.
Dampak letusan dirasakan hingga radius 1000 kilometer. Jawa Barat sampai Nusa Tenggara Barat. Empat orang di Ngantang, Malang menjadi korban jiwa karena tertimpa reruntuhan bangunan serta sakit pernafasan yang berasal dari debu vulkanik. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.