Arum Manis, Jajanan Masa Kecil Kita

0

Dua tangan Suwito (50) menarik adonan gula-gula yang mulai mengering hingga menjadi serupa sekumpulan rambut memanjang, Warna-nya merah. Sebuah meja yang diberikan tatakan dari plat seng mempunyai tonggak khusus dari kayu, sebagai simpul tarikan. Aktifitas itu dilakukan Suwito di dapur rumahnya di Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

Foto: Arief Priyono

Foto: Arief Priyono

Ia duduk di sebuah kursi plastik berwarna hijau. Mengambil nafas sejenak setelah usai rutinitas paginya, memproduksi “Arum Manis”. “Saya mewarisi keahlian membuat Arum Manis dari bapak saya,” kata Suwito. Bapaknya tak lain bermana Kamisan, usianya sudah hampir menjelang 80 tahun. “Bapak saya setiap akhir pekan masih berjualan Arum Manis. Sudah saya larang, tapi tetap memaksa. Katanya agar tidak malas-malasan dan buat jaga kesehatan,” jelasnya.

Suwito sendiri berjualan Arum Manis sejak tahun 1985. “Waktu itu harga Arum Manis masih murah, Rp 10,- per bungkus,” katanya. Sampai sekarang Suwito masih setia dengan profesinya. Setelah rutinitas pagi membuat Arum Manis, siang hingga sore hari ia akan berjalan kaki menjajakannya. Ia sudah memiliki rute jualan, berbeda-beda setiap hari. “Kalau di Kota Kediri jalan kaki seharian, ya bisa 5 kilometer lebih mas,” jelasnya.

Anak-anak meminta Suwito memainkan sebuah lagu dengan iringan Rebab.

Anak-anak meminta Suwito memainkan sebuah lagu dengan iringan Rebab. Foto: Arief Priyono

Para pelanggan Suwito rata-rata anak usia sekolah. “Tapi ada pelanggan saya yang sejak kecil dan sekarang sudah berkeluarga dan mempunyai anak tetap membeli Arum Manis,” katanya. “Kadang di jalan ada pengendara motor atau mobil yang kebetulan melintas menghentikan saya, mungkin mereka mengenang masa kecilnya,” jelas Suwito.

Memang cara berdagang Suwito menarik, selain menjajakannya dengan berjalan kaki, ia juga membawa Rebab untuk menjadi penanda kehadirannya. Penggunaan alat music gesek Rebab ini menjadi cirri khas pedagang Arum Manis pada umumnya. Kalau sudah dibunyikan di jalanan kampung, niscaya anak-anak kecil mengerubutinya.

Dua orang anak membeli Arum Manis. Foto: Arief Priyono

Dua orang anak membeli Arum Manis. Foto: Arief Priyono

Suwito menjualnya paling murah Rp 1.000 per kantong plastik. “Kadang ada juga pembeli yang memberikan bonus, bisa berlipat-lipat dari harganya,” jelasnya. Ia bisa menjual 1-3 kg jajanan Arum Manis dan berpenghasilan sekitar Rp 50.000 – Rp 120.000 per hari. Saat ini penjual Arum Manis keliling telah langka di Kediri, Suwito mungkin satu-satunya.

Jajanan Arum Manis dibuat dari gula, dengan cara tradisional tidak menggunakan mesin. Gula dimasak dicampur dengan tepung khusus dan diberi pewarna makanan lalu ditarik-tarik hingga membentuk serat seperti rambut. Penganan tradisional ini konon sudah ada sejak abad 15 Masehi. (Arief Priyono)

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply