Alunan Melodi Lentera di Kegelapan

0

 

Yo koyo ngene…
abot sanggane..
yen lagi dadi wong ora duwe..
tak rewangi ben dino..
nyambut gawe rekoso..
nanging kayane ra sepiro…

TEMBANG campursari ‘Pacobaning Urip’ itu dilantunkan Kristina penuh penghayatan. Mengikuti lantunan melodi, kakinya bergoyang lirih. Di sampingnya, Slamet Pamuji duduk memainkan keyboard. Jemari pria yang mengenakan kaca mata hitam ini lincah menari-nari dari tuts ke tuts. Paduan yang menciptakan harmoni.

Siapa menyangka duet apik ini dibawakan oleh pasangan tuna netra. Aksi mereka membius puluhan kerabat yang hadir pada acara reuni keluarga Bani Kertopuro di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu.

Tak hanya terkagum-kagum, penikmat musik pasangan ini juga terharu. Lirik lagu ‘Pacobaning Urip’ seolah menggambarkan perjalanan hidup pasangan ini.

Mereka menjalani hidup yang amat sederhana di Lingkungan Tamanan, Kelurahan/Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Meski serba terbatas, pasangan tuna netra ini berusaha hidup mandiri. Tanpa merepotkan orang lain.

Jangkauan mata Pamuji memang dibatasi dinding pekat yang tak berujung. Namun, pria tuna netra berusia 41 tahun ini tak ingin kreativitasnya terpasung dalam kegelapan.

Pamuji tak bisa hidup tanpa musik. Hebatnya, pria ini menguasai segala alat musik. Keyboard, seruling, saksofon, gitar dan drum. “Tapi, favorit saya keyboard,” katanya.

Di grupnya, keyboard sudah menjadi posisi paten Pamuji. Dia siap melayani permintaan mengiringi lagu apapun. Dia hampir menguasai berbagai jenis aliran. Jika masih asing di telinganya, Pamuji cukup mendengar dua kali. Lalu memainkannya dengan piawai.

Pamuji juga bisa bernyanyi. Kualitas vokalnya lumayan. Di grup orkesnya, sesekali, dia berperan menjadi backing vokal. Yang luar biasa, Pamuji juga menciptakan lagu. Salah satunya berjudul ‘Mengapa Kau Tega’. “Lagu ciptaan saya ini mengisahkan pengkhianatan seorangkekasih. Liriknya pengalaman pribadi saya waktu dikhianati seseorang,” kenang Pamuji, sembari tersenyum pahit.

Dengan bermusik, Pamuji menyusuri satu panggung ke panggung musik lain. Selain menyalurkan bakat, musik telah menjadi mata pencahariaannya. Dia sering tampil bersama orkesnya.

Upahnya bervariasi. Berkisar Rp 50 ribu – Rp 100 ribu. “Tapi, pernah juga ketipu. Manggung semalaman, dikasih Rp 10 ribu,” kenang Pamuji, sembari terkekeh.

Dulu, Kristina sering diajak manggung, bahkan ikut bernyanyi. Namun, pesta sering dipenuhi orang mabuk. Pamuji khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Merasa kesulitan menjaga Kristina, dia jarang mengajak istrinya manggung.

Pamuji (tengah) bercengekerama bersama rekannya sesama penderita tuna netra. Saat lahir, Sebelah Mata Normal

SLAMET Pamuji adalah anak keenam dari pasangan almarhum Sudarno dan Supini. Dia lahir pada 12 Mei 1971 dan dibesarkan di Desa Wonosari, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Saat lahir, sebenarnya mata sebelah kanan Pamuji masih berfungsi. Dia bahkan mengenyam bangku SD negeri layaknya anak normal lainnya. Yakni, SD Negeri Wonosari 1, pada tahun 1981 hingga lulus 1987.

Namun, pada usia 15 tahun, tiba-tiba dia mengalami kebutaan total. “Saya sempat mengalami depresi dan mengurung diri di dalam rumah selama tiga tahun,” kisahnya.

Akhirnya, Pamuji berpikir, dirinya tak bisa terus-terusan terpuruk menyerah pada keadaan. Setelah mengalami kebutaan, Pamuji berusaha bangkit. Dia melanjutkan pendidikan di SMPLB Bulu Pasar, Kecamatan Pagu (1994 – 1996) dan PSBN (Panti Sosial Bina Netra) Malang (1996 -1999).

Bakat musiknya sudah terlihat saat remaja. Dia belajar musik secara otodidak kepada teman-temannya di Wonosari. Semula belajar gitar. Belum puas, dia juga belajar seruling. Dengan mudahnya, Pamuji juga menguasai keyboard dan drum.

Bermula dari hobi, musik akhirnya menjadi kehidupannya. Pamuji remaja sering menerima order bermusik. Acara resepsi pernikahan, hiburan rakyat, hingga acara formal. Dan, begitulah. Musik tak hanya menjadi mata jiwa. Namun juga mata pencahariannya.

Cinta Pada Suara Pertama

PAMUJI bertemu Kristina di acara reuni SMPLB Bulupasar, Gurah, Kediri pada akhir 2004. Keduanya sama-sama alumni SMPLB Bulupasar. Namun, Pamuji yang lebih dulu lulus tak mengenal Kristina.

Saat reuni itu, Kristina bernyanyi. Pamuji mengiringi dengan keyboard. Kristina membawakan lagu ‘Kerinduan’-nya Rhoma Irama. Detik itu hati Pamuji berdebar. Dia langsung jatuh cinta pada wanita yang sama-sama tuna netra itu. Jika lazimnya, ada istilah cinta pada pandangan pertama. Maka, yang dialami Pamuji adalah cinta pada suara pertama.

Ternyata, suara merdu Kristina tak menipu. “Memang, saya nggak pernah lihat langsung. Tapi, kata teman-teman, Kristina lumayan cantik. Kulitnya putih,” kata Pamuji terbahak.

Beberapa pekan setelah reuni itu, Pamuji nekat. Dia mendatangi rumah Kristina. Menemui Sulastri, ibu Kristina. Diungkapkan maksudnya untuk melamar sang putri.
Kenekatan Pamuji ini sempat membuat Sulastri kebingungan. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan pasangan suami istri yang sama-sama tak bisa melihat. Namun, Sulastri luluh melihat perasaan Kristina yang ternyata juga mencintai Pamuji. “Karena ingin melihat Tina bahagia, saya akhirnya menerima lamaran Pamuji,” kata Sulastri yang sehari-harinya berjualan cenil di Pasar Pesantren ini.

Dan, pada pernikahan itu berlangsung pada 18 Januari 2005. Bagi Pamuji, pernikahan menjadi momentum terindah dalam hidupnya.
“Meski sama-sama tak bisa melihat, kami merasa bahagia menjalani hidup bersama. Suka duka kami jalani bersama,” kata Pamuji.

Setelah menikah, Pamuji pindah ke Lingkungan Tamanan, Kelurahan/Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Di rumah yang kondisinya amat sederhana ini, Pamuji hidup bersama Kristina dan mertuanya Sulastri.
Jangan tanya apa arti Kristina kepada Pamuji. Meski tak pernah tahu seperti apa wajahnya, namun Kristina sudah menjadi belahan jiwa yang tak terpisahkan lagi. “Mungkin, perasaan senasib menyatukan yang kami,” papar Pamuji.

Kristina memang terlahir dengan kondisi buta. Dokter memvonis Kristina sulit disembuhkan. Sedangkan Pamuji masih ada harapan untuk disembuhkan. Saat di Malang, Pamuji pernah diperiksa dokter dari Australia. Dokter menemukan benjolan daging di kornea matannya.

Menurut dokter, jika benjolan daging diangkat, matanya bisa sembuh. Tapi, dia menolak dioperasi. “Saya sudah bahagia dengan kondisi saya seperti ini,” ujarnya, sembari tersenyum.

Pamuji mengajari muridnya, Wahyu bermain keyboard. Wahyu yang duduk di kelas 4 SDLB Darma Putra Daha, Kediri, juga penderita tunanetra.

Pamuji mengajari muridnya, Wahyu bermain keyboard. Wahyu yang duduk di kelas 4 SDLB Darma Putra Daha, Kediri, juga penderita tunanetra.

Guru Musik Bagi Senasib

KETERBATASAN tak berbanding lurus dengan keterpurukan. Slamet Pamuji bahkan bisa membuktikan bakat musiknya bisa berkembang.
Lebih dari itu, Pamuji juga bermanfaat bagi sesama. Dia menjadi guru musik di SLB Dharma Putra Daha Gurah. Seminggu, satu kali pertemuan. Tiap pertemuan 2 jam. Uniknya, dia mengajari sesama tuna netra. Maka, selain komunikasi verbal dengan siswanya, sistem pengajaran yang dikembangkan oleh Pamuji adalah sentuhan pada jari.

Seperti saat mengajar keyboard. Pamuji mengarahkan jari-jari siswanya pada tuts demi tuts, sesuai notasi lagu. Setelah itu, siswa tuna netra itu mencoba sendiri. Pamuji mengoreksinya, jika ada kesalahan. Demikian, terus berulang, hingga siswanya hafal dan lihai bermain keyboard.

“Pak Pamuji orangnya sabar. Saya suka beliau ajari,” kata Wahyu, siswa tuna netra.
Budi Kuncoro, Kepala SLB Dharma Putra Daha menambahkan, “Beliau kan tuna netra, karena yang diajari juga tuna netra cenderung lebih mudah, sejauh ini menggembirakan perbendaharaan Wahyu semakin hari semakin bertambah,”

Pamuji enggan menjawab saat ditanya berapa pemasukannya sebagai guru musik. Saat didesak, dia menjawab sekilas, jika penghasilannya minim. “Saya hanya ingin bermanfaat bagi sesama,” tukasnya, sembari tersenyum.

Keluarga kecil ini menggantungkan hidup pada Pamuji. Penghasilan Sulastri dari berjualan cenil kurang mencukupi. Sebenarnya, Pamuji juga memiliki ketrampilan memijat yang diperoleh dari pelatihan di Malang. Namun, kemampuan bermusiknya ternyata lebih berkembang.

Dari bermusik, dia berusaha mencukupi kebutuhan keluarga. Penghasilannya tak pasti. Tergantung dari order grup. Terkadang ramai order. Terutama menjelang Idul Adha saat banyak pesta pernikahan. Namun, di luar bulan itu, order manggung amat sepi.

Apapun yang harus diterimanya, Pamuji tetap pasrah. Dia ikhlas menerima berbagai cobaan yang menerpa. Dan, dia akan terus melangkah. Menembus kegelapan yang seolah tak berujung. “Semua akan benderang pada waktunya…” pungkasnya. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply