All Size, Tempat Kumpul Para Aktivis dan Musisi

0

Warung kopi yang lebih dikenal dengan sebutan tempat ngopi sekarang telah menjamur dimana-mana. Tidak hanya menyediakan kopi, namun juga menyuguhkan view sebagai point of interest bagi pelanggan.

(Foto : Santi Dwi Efianti)

(Foto : Santi Dwi Efianti)

Fenomena ini menunjukkan bahwa memang peluang bisnis dari mendirikan warung kopi atau sejenisnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, peminatnya tidak hanya dari kalangan tua, tetapi juga dari kalangan muda. Hal ini lah yang membuat Kediri juga mengambil peluang bisnis tersebut. Di sekitar kampus misalnya, tempat yang juga bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa umumnya berdiri di daerah ini, STAIN Kediri salah satunya.

Bagi mahasiswa, tempat ngopi atau sejenisnya tidak hanya digunakan untuk nongkrong atau ngopi saja, namun juga dimanfaatkan sebagai tempat diskusi bahkan mengerjakan tugas. Sebut saja Café All Size. Kafe yang terletak di Jalan Super Semar Nomor 167, depan pasar grosir tersebut berdiri sejak awal bulan Desember 2015. Baru diresmikan Januari 2016. Kafe dengan konsep yang sengaja didesain dengan view yang berbeda-beda di setiap spotnya tersebut didirikan oleh empat alumni dari STAIN Kediri, Ayik, Ulun, Baul, dan Ateng. Mereka berempat berinisiatif untuk mendirikan sebuah tempat ngopi dengan keyakinan bahwa setiap orang menyukai kopi.

(Foto : Santi Dwi Efianti)

(Foto : Santi Dwi Efianti)

Awalnya tempat dengan fasilitas free wifi tersebut memiliki jam buka dari jam 9 pagi hingga 1 malam. Tetapi karena banyaknya pelanggan, terutama dari kalangan mahasiswa, kafe dengan green tea latte sebagai menu andalannya sekarang buka 24 jam. “Bahkan 26 jam,” tambah Ayik dengan tawa kecil di wajahnya malam itu, Kamis 28 April 2016.

Laksana angin berhembus, keberadaan tempat ngopi ini mulai diketahui oleh masyarakat luas, terutama para mahasiswa. “Bapak-bapak sekitar sini juga sudah mulai ngopi di All Size, walaupun tetap masih banyak dari kalangan mahasiswa. Ada mahasiswa UNP, Uniska, STAIN dan masih banyak lagi,” jelas Ayik.

Karena beberapa pengelola kafe ini dulunya adalah para penggiat aktifitas mahasiswa dan punya kegemaran di bidang musik dan teater, yang datang di kafe ini pun banyak dari kalangan aktivis dan seniman. Tak jarang obrolan mengenai budaya, seni, politik bahkan gosip seputar artis dan para pemain bola bisa dijumpai disini.

Kendati Café All Size hanyalah tempat ngopi, akan tetapi mereka tidak hanya menyediakan kopi hitam sebagai menu satu-satunya. Mereka juga menyediakan menu olahan kopi seperti capuccino. Harganya pun juga terjangkau, mulai dari Rp 2.000,00 hingga Rp 7000,00. Tidak hanya itu, Kafe yang kedepannya akan ditambahi fasilitas perpustakaan mini ini juga menyediakan makanan berat dan makanan ringan, dengan mematok harga mulai dari Rp 2000,00 hingga Rp 6500,00.

Harga yang terjangkau untuk sekelas kafe adalah daya tarik tersendiri bagi pelanggan untuk selalu datang di Café All Size, baik hanya untuk sekedar ngopi, berkumpul dengan teman atau komunitas, bahkan wifi-an dan mengerjakan tugas. Namun, sejak berdirinya kafe ini tidak sekaligus menarik banyak pelanggan untuk datang. Hal ini dilihat dari segi pendapatan yang hanya mendapat Rp 80.000,00 setiap harinya sekarang menjadi kurang lebih Rp 5.000.000,00 setiap bulannya.

(Foto : Santi Dwi Efianti)

(Foto : Santi Dwi Efianti)

Kafe yang mengedepankan kualitas rasa dan kenyamanan bagi pelanggan tersebut didirikan bukan atas dasar manajemen bisnis yang kuat. Berawal dari rasa frustasi seorang sarjana terhadap pekerjaan mengantarkan Ayik dan kawan-kawannya untuk memulai bisnis di bidang ini. Mereka yakin bahwa prospek bisnis ini kedepannya akan meningkat, melihat semakin ramainya kebutuhan orang untuk bertemu dan juga tempat. (Santi Dwi Efianti & Lilis Khumaida)

Editor : Nakula

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.